Tak apa jika dunia tahu kau menangis Tak apa jika orang lain tahu kau sedih, jatuh, dan dianggap menyedihkan Tak apa selama kau percayakan bahuku untuk bersandar, Akan kuberi pelukan terhangat untukmu Menangislah Terisaklah Bersedihlah Akan kupeluk dirimu Sehangat kasih malam Dini hari yang temaram Teluk, 18 Mei 2020
Angkasa gelap dan terang Tempat bercerita antara matahari dan bintang Ruang luas dimana semua harapan tumbuh Menuju ruang hampa lalu takdir ditentukan Sebelum rindu mencekam Setelah senja datang dan sang surya tenggelam Kukepakkan kekuatanku Keluar dari sangkar untuk bermesraan dengan malam Nikmatnya dingin menusuk tulang rusuk yang rapuh tanpa tahu pemiliknya Lembutnya kabut yang tercipta karena pagi semakin terasa cepat Menggangguku yang sedang bercumbu Dengan kesunyian yang terahasia dengan baik Aku memberontak Yang melindungiku dari segala rasa kasih yang suci Hingga aku utuh menjadi milikmu.. Terpenjara dalam ruang dan waktu Hatimu, hatiku, satu.
Dalam sebuah genggaman tangan Rasa haru dan syukur terucap Petang telah datang Adzan maghrib tetap berkumandang Gelap yang kita takutkan Segera terang oleh bintang-bintang Menunjukkan rasinya Memberi arah dan tujuan Bersama, berjalan, beriringan. Purwokerto, 12 April 2020
Sudah kau lihat Malam terlalu pekat untuk perjalanan kita Kau tantang dingin, angin, hujan Hal yang membahayakan Katamu akan hangat seketika Kau tatap dalam mataku Hmm "Kau pikir di mataku ada api?" Kau jawab tidak "Di matamu, ada cinta yang bisa kupeluk". Lalu pagi datang Selesai sudah pertemuan Purbalingga, 22 Maret 2020