Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Laron-laron

Laron-laron yang mencintai cahaya.. Datang ketika terang, pulang ketika redup Laron-laron yang mencintai cahaya.. Jangan patahkan aku, jika dia ternyata sepertimu Laron-laron yang mencintai cahaya.. Jangan biarkan hujan membuat hatiku beku menunggu Laron-laron yang mencintai cahaya.. Terbanglah Hiduplah sesukamu Biarlah hanya aku yang merasakan pilu..

Biru

Biarkan aku bercerita tentangmu Tentang rindu Sebelum aku menghilangkanmu Melenyapkan cinta untukmu Ku pandang langit Awan menjauhi Terang melindungi Hampa Biru Hilang sudah rinduku Karangendep, 13 mei 2018

Hujan Jam Empat Sore

Awan hitam memburumu Kau bergegas segera sampai rumah Setelah panas siang tadi Air turun membasahi tanah, menghangatkannya Satu jam hujan berhenti Burung-burung terbang meliuk-liuk di angkasa Angin menyegarkan tubuh dan jiwamu Langit yang muram perlahan sirna Membawa cerah kembali awan berganti Puncak gunung slamet terlihat Mengintip Aku tersenyum Ia melambaikan semburat jingganya Memperlihatkan senja yang kian merona Pikirku ia sedang jatuh cinta Bagaimana tidak? Ia selalu menjadi tegar setelah badai menghantam Ia masih bertahan dengan keindahan agungnya Tak pernah mengeluh Dari sisi mana pun ia tetap cantik Tak di buat-buat Wah Ia benar-benar jatuh cinta. Teruntuk, gunung slamet di depan rumahku. Teluk, 11 April 2018

Lautan Kalbu

Jika terus ku Selami Yang ku temukan hanyalah hatimu Meski ku geledah ruang kalbuku Yang tertulis adalah namamu Ketika nanti aku pergi Yang ku temukan di setiap perjalananku hanyalah kerinduan pada senyummu Dan ketika aku mati Yang ku ingat adalah waktuku bersamamu Purwokerto, 11 April 2018

Embun Pagi

Seolah melayang jiwamu terbang Dirasuki angin Di antara ayam dan katak yang berirama Melantunkan rindu tiada henti Burung-burung bertanggar di antara dahan Menunggu mentari merekahkan sinarnya Pohon-pohon berseru Segarnya pagi ini menambah nikmat syukurku Ketenangan itu masih di dalam kalbu Meski menghalangi jarak pandang Tak perlu khawatir tentang nanti Lebih baik sekarang Menikmati kerinduan embun pagi Dan secangkir hembusan semangat yang menderu Teluk, 11 April 2018

Satu bintang di barat daya

Dibalik tawa terdapat lara Kau terlalu dingin untuk ku sentuh Aku terlalu berapi-api untuk membuat nafasmu peluh Tak jarang bulan memergoki kita bersama Mencipta cinta dari gumpalan rindu Disetiap hari kau dan aku menunggu Peluk menghantarkanku kepada luka Tak terhingga ku lukiskan namamu di langit malam yang temaram Tak lagi ku tau apakah kau juga rindu? Hingga hujan meleraiku untuk berhenti berkelahi dengan waktu Malam berlalu Embun pagi berganti menyisakan pilu Malam datang kembali Bulan memergoki aku sendiri Lalu membawaku kepada bintang Ia juga sendiri Bersinar mengingatkanmu Menunjukkan matamu tersenyum rindu Bintang di barat daya Ternyata ia masih setia Karangendep, 30 Maret 2018

Lembayung senja

Jingga Merekah di barat langit biru Luas Ditemani awan yang gemas menggoda Terliuk-liuk mengikuti alunan bayu yang syahdu Rindu Datang menghantui menuju malam Hitam Membekukan hati yang terluka Menjelma hingga embun meluluhkannya Jarak Diantara sabda-sabda yang agung Tercipta jutaan rasa terpendam Melabuhkan diri di pangkuan sang senja Terjawab oleh waktu karena tak tahan melihatnya bermuram durja Tanya Terlalu besar untuk sebuah kata yang terangkai manja Kapan waktu itu akan datang? Saat kau menjemputku dalam kerinduan Mungkin senja menjadi jawaban Purwokerto, 29 Maret 2018

Tatapan Malam

Dua bola mata yang sayu Menatap langit Kemana angin akan membawa luka pergi? Yang tersembunyi dalam gelapnya awan Malam ini terang Tapi dingin membuatnya kehilangan arti Dengan sayu, hati memohon "Langit, hangatkanlah malam dengan bintang-bintang, Berikan senyuman sang rembulan, Rengkuhlah dengan angin yang tenang" Seketika embun pagi membekas di kulit Mentari bersinar melepas kebekuan Kicau burung mengejutkan, Datang membawa berita gembira Melukis senyuman bola-bola yang berbinar Purwokerto, 27 Februari 2018

Rindu

Salam hangat mentari pagi menyinari wajah usangku Semua bayangan masih setia mengikuti Tak akan lari sampai semuanya pergi Aku berjalan ke timur Pelan melewati jembatan yang airnya keruh dan meluap karena semalam hujan lebat Desa ini selalu hijau Sejak aku kecil sampai sekarang aku beranjak dewasa Menjadi tempat paling bersaksi bahwa kita pernah bersama Melewati tawa dengan dinginnya malam oleh angin utara Ini tempat favoritku Disini aku bisa mengingatmu Sepagi ini, aku telah mengingatmu lagi Membayangkan saat kita masih bersama dulu Senyum yang terus kau berikan saat aku berada tepat di depanmu Merasakan hangatnya nafasmu seperti hangatnya mentari pagi ini Sampai akhirnya kau pergi Bersama alasan yang tak pernah memberiku sedikit pun ruang untuk mengerti Kau tetap pergi Meski aku masih disini Malam-malam ku lalui tanpamu Pelukan hangat tergantikan oleh dingin dan membeku Aku rindu hingga tak lagi ku rasakan bagaimana rindu Malam-malam kita telah berlalu ...

One of Loved

Pagi adalah cerita tentang embun, cahaya dan cinta Tak ada yang tak mencintai pagi kecuali dia benar-benar tergila-gila pada malam Adalah dia yang tergila-gila dengan malam dia sangat mencintai bintang-gemintang Memuji bulan Mengasihi angin yang berdesah menggesek tubuhnya Dan menggilai dingin yang menusuk ke dalam jantungnya Dialah sang gelap yang tergila-gila dan selalu merindukan malam Pekat Kadang biru, kadang hitam Dialah pemilik sesungguhnya sang malam Terus bersama, menyatu dan selalu berdampingan Tak ada yang lebih menggilai malam kecuali gelap -we have fire to warm our heart, not to broke or attack life other- kaf Tranggulasih, 30 Juni 2017 (Gn. Slamet)