Langsung ke konten utama

Rindu

Salam hangat mentari pagi menyinari wajah usangku
Semua bayangan masih setia mengikuti
Tak akan lari sampai semuanya pergi

Aku berjalan ke timur
Pelan melewati jembatan yang airnya keruh dan meluap karena semalam hujan lebat

Desa ini selalu hijau
Sejak aku kecil sampai sekarang aku beranjak dewasa
Menjadi tempat paling bersaksi bahwa kita pernah bersama
Melewati tawa dengan dinginnya malam oleh angin utara
Ini tempat favoritku
Disini aku bisa mengingatmu

Sepagi ini, aku telah mengingatmu lagi
Membayangkan saat kita masih bersama dulu
Senyum yang terus kau berikan saat aku berada tepat di depanmu
Merasakan hangatnya nafasmu seperti hangatnya mentari pagi ini

Sampai akhirnya kau pergi
Bersama alasan yang tak pernah memberiku sedikit pun ruang untuk mengerti

Kau tetap pergi
Meski aku masih disini

Malam-malam ku lalui tanpamu
Pelukan hangat tergantikan oleh dingin dan membeku

Aku rindu hingga tak lagi ku rasakan bagaimana rindu
Malam-malam kita telah berlalu
Hanya bayang-bayang yang masih erat memelukmu
Hampa
Karena nafas kita tak lagi satu nan menderu

Purwokerto, 15 April 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laron-laron

Laron-laron yang mencintai cahaya.. Datang ketika terang, pulang ketika redup Laron-laron yang mencintai cahaya.. Jangan patahkan aku, jika dia ternyata sepertimu Laron-laron yang mencintai cahaya.. Jangan biarkan hujan membuat hatiku beku menunggu Laron-laron yang mencintai cahaya.. Terbanglah Hiduplah sesukamu Biarlah hanya aku yang merasakan pilu..

Hujan Jam Empat Sore

Awan hitam memburumu Kau bergegas segera sampai rumah Setelah panas siang tadi Air turun membasahi tanah, menghangatkannya Satu jam hujan berhenti Burung-burung terbang meliuk-liuk di angkasa Angin menyegarkan tubuh dan jiwamu Langit yang muram perlahan sirna Membawa cerah kembali awan berganti Puncak gunung slamet terlihat Mengintip Aku tersenyum Ia melambaikan semburat jingganya Memperlihatkan senja yang kian merona Pikirku ia sedang jatuh cinta Bagaimana tidak? Ia selalu menjadi tegar setelah badai menghantam Ia masih bertahan dengan keindahan agungnya Tak pernah mengeluh Dari sisi mana pun ia tetap cantik Tak di buat-buat Wah Ia benar-benar jatuh cinta. Teruntuk, gunung slamet di depan rumahku. Teluk, 11 April 2018