Langsung ke konten utama

Satu bintang di barat daya

Dibalik tawa terdapat lara
Kau terlalu dingin untuk ku sentuh
Aku terlalu berapi-api untuk membuat nafasmu peluh

Tak jarang bulan memergoki kita bersama
Mencipta cinta dari gumpalan rindu
Disetiap hari kau dan aku menunggu

Peluk menghantarkanku kepada luka
Tak terhingga ku lukiskan namamu di langit malam yang temaram
Tak lagi ku tau apakah kau juga rindu?
Hingga hujan meleraiku untuk berhenti berkelahi dengan waktu

Malam berlalu
Embun pagi berganti menyisakan pilu
Malam datang kembali
Bulan memergoki aku sendiri
Lalu membawaku kepada bintang
Ia juga sendiri
Bersinar mengingatkanmu
Menunjukkan matamu tersenyum rindu

Bintang di barat daya
Ternyata ia masih setia

Karangendep, 30 Maret 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laron-laron

Laron-laron yang mencintai cahaya.. Datang ketika terang, pulang ketika redup Laron-laron yang mencintai cahaya.. Jangan patahkan aku, jika dia ternyata sepertimu Laron-laron yang mencintai cahaya.. Jangan biarkan hujan membuat hatiku beku menunggu Laron-laron yang mencintai cahaya.. Terbanglah Hiduplah sesukamu Biarlah hanya aku yang merasakan pilu..

Hujan Jam Empat Sore

Awan hitam memburumu Kau bergegas segera sampai rumah Setelah panas siang tadi Air turun membasahi tanah, menghangatkannya Satu jam hujan berhenti Burung-burung terbang meliuk-liuk di angkasa Angin menyegarkan tubuh dan jiwamu Langit yang muram perlahan sirna Membawa cerah kembali awan berganti Puncak gunung slamet terlihat Mengintip Aku tersenyum Ia melambaikan semburat jingganya Memperlihatkan senja yang kian merona Pikirku ia sedang jatuh cinta Bagaimana tidak? Ia selalu menjadi tegar setelah badai menghantam Ia masih bertahan dengan keindahan agungnya Tak pernah mengeluh Dari sisi mana pun ia tetap cantik Tak di buat-buat Wah Ia benar-benar jatuh cinta. Teruntuk, gunung slamet di depan rumahku. Teluk, 11 April 2018